Euforia dan Demam Jokowi dalam pilkada DKI




Demam Jokowi Di Ibukota - Sudah seminggu ini kalau saya amati dimana-mana, mulai media TV, surat kabar, media online, social network semacam facebook dan sebagainya, tiada henti memberitakan sosok Jokowi sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang bersaing dengan Fauzi Bowo (Updated: Jokowi Unggul sementara dalam Quickcount).

Dan yang lebih lucu lagi bahkan di facebook pun temen-temen yang jarang updated statusnya jadi sering updated bak seorang politikus tiban dan ikutan cerewet berkomentar soal Jokowi...hahaha.

Baju kotak-kotak ala Jokowi pun konon laris manis di tanah abang dan itu ikut menjadi tren juga di masyarakat luas di luar Jakarta.

Sepertinya hal yang wajar jika masyarakat begitu terbawa euforia ini. Membuktikan bahwa masyarakat DKI khususnya dan mungkin sebagian masyarakat Indonesia umumnya haus akan pemimpin yang berani mengusung perubahan, pemimpin yang sederhana, pemimpin yang merakyat, pemimpin yang simple tidak mementingkan birokrasi yang ruwet dan tentunya pemimpin yang di cintai masyarakat luas.

Jokowi yang selama ini memimpin kota Solo memang sudah terbukti berhasil membawa perubahan itu. Ini pengakuan temen-temen saya dan juga saudara saya yang banyak tinggal di Solo lho yah...., bukan pengakuan dari seorang politikus yang sempet membuat berita negatif soal Jokowi :D. Logikanya kalau Jokowi tidak berhasil membawa kota solo menjadi lebih baik, mustahil pada pemilihan walikota Solo yang kedua kalinya bisa terpilih kembali dengan jumlah suara telak lebih dari 90% hahaha...

Jokowi sebenarnya biasa-biasa saja, bukan pemimpin yang kharismatik,, tetapi menjadi luar biasa dan berkharisma karena masyarakat udah muak dengan pejabat-pejabat pada umumnya yang hanya bisa mementingkan diri sendiri atau golongannya saja. Jokowi menjadi luar biasa karena selalu berpihak pada masyarakat kecil. Dia juga menjadi berkharisma karena dia seorang pejabat jujur pada saat rakyat Jakarta menganggap pejabat tidak jujur sebagai hal yang wajar. Bayangkan, betapa sudah rusaknya sebuah kota, ketika perilaku yang tidak seharusnya .....  JUSTRU dianggap sebagai sebuah perilaku yang wajar dan bisa dibenarkan.


Jakarta tentunya bukan Solo. Dan Jakarta jauh lebih rumit dan sesak di banding kota Solo. Saya yang pernah tinggal di pinggiran kota jakarta selama hampir 5 tahun dan hampir tiap hari berinteraksi dengan kota jakarta merasakan betapa kota ini sangat tidak nyaman untuk di singgahi dengan problem utama :
  • Kemacetan dimana-mana dengan tingkat kesemrawutan jalan yg tinggi
  • Pasar-pasar tiban dan pedagang-pedagang kaki lima yang tumbuh dimana-mana dan makin bikin ruwet jalanan
  • Transportasi massal yang tidak efektif
  • Kebersihan terutama kebersihan sungai, sampah menumpuk dan tentu saja masalah BANJIR !!
  • Banyaknya kerusakan jalan terutama di pinggiran kota yang di dukung kualitas jalan yg rendah membuat lalu lintas jadi tidak nyaman dan ujung-ujungnya bikin macet lagee
Apa lagi yah ?
Yah tentunya kehidupan masyarakat jakarta dengan tingkat ekonomi yang tidak merata, terus maraknya bangunan-bangunan liar terutama di pinggiran sungai menambah kekumuhan jakarta.

Semua masalah di atas tentunya menjadi PR Jokowi-Ahok bersama jajarannya dalam masa kepemimpinannya di Jakarta. Saya juga tidak mengerti bagaimana nasib Jokowi-Ahok selajutnya  - Apakah berhasil dengan Visi Misinya sesuai harapan pemilih-nya ?

Minimal Jokowi adalah sebuah lilin, .... Lilin yang sanggup membuat terang ibukota, semoga lilin tersebut sanggup bertahan ditengah-tengah padang gemerlapnya kota, dan harapan saya juga sebagai bagian masyarakat yang menginginkan memiliki ibukota negara yg berkualitas dan nyaman berharap semoga ini bukan hanya euforia sesaat dan selanjutnya lilin tersebut redup dan akhirnya mati di telan cahaya-cahaya gemerlapnya kota tapi penuh kebohongan. Selamat Bekerja Pak Jokowi dan Ahok, semoga berhasil menjalankan tugas-tugasnya yang maha berat ini. Saya sadar membuat Jakarta berubah bukan pekerjaan seperti pesulap. Hidup Perubahaan !!